Jumat, 22 Mei 2015

Konsep dan Penerapan Self-directed changes

Konsep dan Penerapan Self-directed changes

1.      Meningkatkan kontrol diri
Mendasarkan diri pada kesadaran bahwa pada setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kondisi yang dimiliki setiap manusia. Itu dapat terjadi sebagai akibat perubahan dalam struktur kognitif yang dihasilkan oleh perubahan struktur kognitif itu sendiri atau perubahan kebutuhan juga adanya motivasi internal serta belajar yang efektif.
2.      Menetapkan tujuan
Dimaksudkan untuk menjaga individu agar tetap tertuju pada proses pembelajaran, dalam arti dapat mengetahui dan mampu secara mandiri menetapkan mengenai apa yang ingin dipelajari dalam mencapai kesehatan mental, serta tahu akan kemana tujuan hidupnya, cakap dalam mengambil keputusan dan mampu berpartisipasi di masyarakat dan akan mampu mengarahkan dirinya.
3.      Pencatatan perilaku
Menguatkan perilaku ulang kalau individu merasa bisa mengambil manfaat dari perilaku yang pernah dilakukan sebelumnya, kemungkinan lain yang bisa menjadikan seseorang mengulang perilaku sebelumnya karena merasa senang dengan apa yang pernah dilakukan.
4.      Menyaring anteseden perilaku
Bisa membagi perilaku sasaran ke dalam perubahan, serta membantu individu agar lebih siap dalam mempelajari perilaku tersebut. Pemahaman akan anteseden perilaku membantu individu agar dapat dengan tepat memilih nilai-nilai dan merencanakan strategi.
5.      Menyusun konsekuensi yang efektif
Pemahaman dalam arti sehat mental dapat menentukan perubahan pada individu dalam melakukan mobilitas untuk melakukan segala sesuatu aktifitas –aktifitas yang dilakukan oleh manusia, dalam menanggapi stimulus lingkungan, yang meliputi aktivitas motoris, emosional,dan kognitif dalam mencapai kematangan mental.
6.      Menerapkan perencana intervensi
Membawa perubahan, tentunya pada perubahan yang lebih baik. Dalam arti pemahaman nilai-nilai, karakter / watak, dan cara cara berperilaku secara individual. Dalam arti kita harus lebih memahami cara berperilaku pada kegiatan proses pembentukan watak dan pembelajaran secara terencana.
7.      Evaluasi
Faktor yang penting untuk mencapai kematangan pribadi, sedangkan salah satu faktor penting untuk mengetahui keefektivan adalah evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran.

Sumber:
http://pestawaniagnes.blogspot.com/2013/06/pekerjaan-waktu-luang-dan-self-directed.html
Prabowo, Hendro. B.P. Dwi Riyanti.1998.Psikologi Umum 2.Jakarta: Gunadarma
R. Tickle, Naomi.2012.Cara Cepat Membaca Wajah.Jakarta: Ufuk Press
SAP Kesehatan Mental 2012


Penyesuaian diri dalam pekerjaan dan Waktu Luang

Penyesuaian diri dalam pekerjaan dan Waktu Luang

Penyesuaian  Diri dalam Bekerja

Penyesuaian diri  merupakan suatu usaha individu untuk dapat merubah dirinya ketika mereka berada di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan di masyarakat yang dapat ditunjukkan melalui aktifitas-aktifitas seperti: dapat menguasai lingkungan dimana individu berada, penuh percaya diri, bersedia menerima teman dalam kelompok, bersedia mengatasi masalah, dan bersedia merencanakan sesuatu dengan pikiran.

Pada dasarnya, penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.
1.      Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapainya hubungan yang harmonis antara siapa dirinya dengan lingkungan kerjanya. Ia sadar sepenuhnya siapa dirinya, apa kelebihan dan kekurangannya dan bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan diri pribadi dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, kecewa atau tak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa tidak puas, rasa cemas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
2.      Penyesuaian Sosial
Setiap individu hidup dalam masyarakat, dimana terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain. Dari proses tersebut timbul pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyesuaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.
Dalam dunia kerja ada 2 hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu karyawan dan perusahaan. Seseorang yang dapat menyesuaikan dirinya dengan pekerjaannya yaitu apabila terdapat adanya kepuasan kerja.

WAKTU LUANG

Definisi pengisian waktu luang adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan bebas tanpa bayaran, dan kegiatan ini memberikan kepuasan kepad pelakunya yang dilakukan selama waktu-waktu yang dapat disisakan dari memenuhi kebutuhan penghidupan dan pemeliharaan hidup, tuntutan sosial maupun tuntutan lembaga lain.
Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang ialah :
1. Waktu
2. Tuntutan sosial
3. Dukungan dana
4. Pengalaman masa lampau
5. Tersedianya berbagai pilihan kegiatan
6. Tersedianya lahan
7. Kemampuan
8. Kebutuhan psikologis masing-masing pelaku
9. Falsafah dan nilai yang dimiliki
10.Pengaruh lingkungan fisik maupun budaya setempat
11.Sikap masyarakat dan budaya terhadap kegiatan-kegiatann tertentu


sumber:
Keith, Davis, Jhon W. Newstrom, 1995. Perilaku Dalam Organisasi, Edisi Ketujuh,Erlangga, Jakartahttp://ulfahindahkusumaningrum.blogspot.com/2015/05/pekerjaan-dan-waktu-luang.html


Senin, 11 Mei 2015

Minggu 12. Pekerjaan dan Waktu Luang



F. Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan
Sikap (attitude) merupakan salah satu bahasan yang menarik dalam kajian psikologi, karena sikap sering digunakan untuk meramalkan tingkah laku, baik tingkah laku perorangan; kelompok; bahkan tingkah laku suatu bangsa. Salah satu hal yang menarik dari perilaku manusia yang membuatnya menjadi kompleks adalah sifat deferensial. Seseorang dapat berespon tertentu dalam menghadapi stimulus atau objek pada suatu saat, tetapi dapat pula berespon yang lain pada saat yang berbeda.
Sejumlah ahli telah mencoba memberikan definisi sikap, dan sangat beragam definisi yang mereka kemukakan. Tetapi sekurang-kurangnya ada dua definisi yang masih cukup dominan sampai saat ini, yaitu definisi yang di kemukakan oleh Gordon W. Allport (1935) dan definisi dari David Krech beserta Richard S. Crutchfield (1948). Allport melihat sikap sebagai: “… a mental and nueral state of readinnes, organized through experience, exerting a directive or dynamic influence upon the individual’s respone to all objects and situations with which it is related”, Dari batasan yang ia kemukakan terlihat bahwa Allport menekankan akan pentingnya pengalaman masa lalu dalam membentuk sikap. Sedangkan definisi dari Krech dan Cruitchfield lebih menekankan pada pengalaman subyektif seseorang pada masa sekarang. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada definisi mereka yang melihat sikap sebagai: “.. an enduring organization of montivational, emotional, perceptual and cognitive processes with respect to some aspects of individual’s world”.

G. Proses dalam Memilih Pekerjaan
Seorang individu membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup atau memenuhi kebutuhanya sehari-hari. Biasanya mereka memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Dalam memilih pekerjaan manusia akan mau dan mampu untuk bekerja dengan baik bilamana ia ditempatkan pada posisi dengan jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta bila mana ia bisa memenuhi kebutuhannya dengan melakukan pekerjaan itu. lni berarti bahwa perusahaan harus bisa menempatkan orang pada jabatan-jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, dengan tidak lupa mempertimbangkan upaya pemenuhan kebutuhannya. Sebelum ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan minat dan kemampuanya, para calon tenaga kerja biasanya terlebih dahulu mengikuti seleksi yang diadakan oleh pihak perusahaan yang bertujuan untuk mencari calon tenga kerja yang memang benar-benar menguasai keahlian didalam bidang yang dicari oleh pihak perusahaan. ada enam tahapan yang harus dijalani oleh seorang calon tenaga kerja, yaitu:
1.      Tahap penyerahan surat lamaran
2.      Tahap wawancara awal
3.      Tahap ujian psikotes (wawancara)
4.      Tahap penilaian akhir
5.      Tahap pemberitahuan wawancara akhir
6.      Tahap penerimaan

H. Memilih Pekerjaan yang Cocok
Memilih pekerjaan yang tepat memang perlu proses, bukan hanya disandarkan akan adanya peluang tapi juga berdasarkan kemampuan dan bakat yang anda miliki.
Salah satu cara untuk memilih pekerjaan yang baik yaitu dengan mencocokan antara pekerjaan dan kepribadian. Berikut beberapa kepribadian yang bisa menjadi dasar untuk memilih pekerjaan yang cocok untuk anda :
1.      Konvensional yaitu memiliki kepribadian yang menyukai dengan aturan, prosedur tetap, jadwal, instruksi ketimbang harus berfikir dengan ide kreatif. Pekerjaan yang tepat untuk pribadi konvensional ini adalah akuntan, aktuaria, inspektur keamanan, keuangan, perencana keuangan, dan penulis teknis.
2.      Realistik adalah orang yang menyukai hasil akhir, menyukai persoalan dan masalah yang harus dipecahkan. Mereka senang bekerja di luar ruang, bekerja dengan mesin, alat-alat berat, dan perhiasan. Pekerjaan yang baik untuk tipe realistik adalah ahli elektro, ahli nuklir, dokter gigi, dan ahli kunci.
3.      Sosialis yaitu orang yang senang dengan kegiatan sosial membantu penderitaan orang banyak. Mereka pandai berkomunikasi, bekerjasama dengan team dan merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Pekerjaan bagus adalah pelatih pribadi, psikolog sekolah, bimbingan siswa, guru, relawan dan motivator.
4.      Penyelidik merupakan orang yang senang bekerja sendiri, menyelidiki sesuatu, menggunakan logika, menyelesaikan masalah dan misteri, menyatukan masalah yang tercerai, presisi, dan ilmu pasti. Profesi yang tepat yaitu analis sistem komputer, optometris, profesor ilmu alam, insinyur piranti lunak, dan pelaku statistik.
5.      Wirausahawan yaitu orang yang pandai melihat peluang dan berani mengubahnya untuk suatu keuntungan. Pribadi wirausaha selalu action apabila melihat peluang dan merekapun memiliki kemampuan memimpin dan mengorganisir sumberdaya. Pekerjaan yang cocok adalah agen sales di advertising, pekerja finansial, analisis manajemen, direktur program, sales manager dan pastinya membuat usaha sukses sendiri.

Sumber:
Yosep, I. Jurnal Konsep Kepribadian
Siswanto. Kesehatan Mental, Konsep,Cakupan, dan Perkembangannya

Selasa, 05 Mei 2015

Cinta dan Perkawinan



Cinta dan Perkawinan

Tidak ada definisi yang jelas mengenai apa itu cinta. Jika bisa mengambil pendapat seorang teoris, saya memilih mendefinisikan cinta menurut Robert Sternberg, memiliki beberapa komponen yaitu intimacy atau intimasi, passion atau hasrat, dan commitment atau komitmen. Cinta merupakan sesuatu yang kompleks, tidak apat diartikan dengan mudah apalagi dirasakan oleh orang yang belum pernah merasakan apa itu cinta. Dan menurut saya, untuk menjalani sebuah pernikahan atau perkawinan komponen – komponen yang membentuk cinta seperti yang diungkapkan Sternberg,

A.    Memilih Pasangan
  • Saling Jujur dan Setia
Memilih pasangan yang tidak suka berkata-kata bohong, selalu menepati janji dan menjaga amanah. Apabila berjanji selalu ditepati. Karena seseorang yang suka berbohong akan mempengaruhi hubungan keluarganya dan akan berimbas kepada anak turunnya. Maka dari itu kita harus senantiasa memperbaiki diri agar jujur dalam berbicara dan setia menaungi keluarga.
  • Dalam segi penampilan
Dari segi penampilan seeorang bisa kita ketahui baik buruknya orang tersebut. Peribahasa jawa mengatakan : “Ajine Rogo Soko Busono” yang artinya Sifat atau perilaku seseorang bisa dilihat dari penamilannnya. Menarik bukan berarti yang cantik paras mukannya tetapi juga baik hatinya. dan yang bisa menyejukkan hati keluarganya. Dan kita juga harus menjaga penampilan kita saat sudah menikah agar dia selalu dekat dengan kita.
  • Taat Beribadah
Paling penting dlam memilih jodoh adalah mencari agamanya yang baik. seseorang yang agamanya baik selalu akan menghasilkan perilaku yang baik juga, hal ini yang menyangkut dengan masa depan keluarga anda. Karena anak-anak akan banyak dibimbing oleh seeorang ibu. Jika ibunya berperilaku baik maka keturunan atau anaknya akan sebagian besar berperilaku seperti iibunya.

B.     Hubungan dalam Perkawinan
Tidak ada satupun rumus yang ajaib bagaimana membangun suatu perkawinan yang berbahagia yang berbahagia.Sebagian perkawinan bisa berkembang baik dalam kegiatan-kegiatan rutin dan dapat diprediksikan sementara sebagian yang lain berkembang dalam keadaan kacau dan tidak lebih hanya sebagai permainan belaka. Sulit jika bukan tidak mungkin, menilai perawinan seseorang pasangan dengan kriteria-kriteria perkawinan orang lain karena persepsi seseorang pasangan terhadap hubungan sendirilah yang paling penting dalam menentukan keabadian komitmen seumur hidupnya. Tidak semua perkawinan tidak bertahan lama harus didasarkan pada cinta karena banyak perkawinan mampu bertahan dalam rentang yang sangat lama karena faktor-faktor diluar cinta semisal anak-anak, harta, keuangan, atau takut sendirian.

Perkawinan yang berhasil merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan seseorang. Baumgardner dan Clothers (2010) menjelaskan bahwa keberhasilan perkawinan merupakan salah satu penyumbang penting bagi terjadinya penguatan kesehatan individu dan kebahagiaan individu.

Penelitian psikologi positif tentang perkawinan yang berbahagia oleh Lauer dan Lauer tahun 1985 (dalam Baumgardner dan Clothers, 2010) terhadap pasangan yang telah menikah 15 tahun atau lebih menunjukan bahwa pertemenan (friendship) dan komitmen merupakan faktor utama terjadinya perkawinan yang bahagia. Dalam hal ini, pertemanan sangat erat dan mendalam menjadi alas an utama pasngan suami dan istri untuk tetatp hidup dalam ikat perkawinan. Dalam penelitian ini, pasangan suami dan istri yang berbahagia tersebut memberikan penjelasan bahwa pasangan mereka adalah teman terbaik bagi mereka.

Pasangan perkawinan yang berbahagia memiliki pendapat bahwa komitmen yang kuat dan berjangka waktu lama merupakan fundamen yang bagus untuk melestarian sebuah perkawinan yang berbahagia memecahkan maslah perkawinan mereka secara baik dan berkelanjutan.

Selain faktor pertemanan dan faktor komitmen, faktor humor juga memiliki kontribusi yang kuat bagi terciptanya perkawinan yang berbahagia. Dalam kehidupan perkawinan kenikmatan perkawinan dapat diperoleh melalui tertawa bersama sebagai konsekuensi dari tindakan humor. Berdasarkan pada rasional semacam ini, tidak heran banyak orang menseleksi orang lain sebagai calon pasangan terkait dengan kualitas perasaan humor yang dimiliki oleh seseorang.

Selain itu, humor juga mampu mendetoksi atau menetralkan konflik anatara suami dan istri dan sekaligus menyembuhkan stress akibat konflik dalam suatu hubungan perkawinan.lebih lanjut,humor juga membuat suami dan istri untuk saling berbagi (sharing) hal-hal yang sangat personal dalam diri mereka. Dalam hal ini tertawa menggambarkan reaksi emosional alamiah maka orang akan mengalami kesulitan untuk mencoba mengelabui orang lain pada saat tertawa.perilaku tertawa yang bersifat alamiah adalah ekspresi jujur darp persaan sebenarnya dalam diri seseorang (Baumgardner & Clothers, 2010).

C.     Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan

Hirning dan Hirning (1956) mengatakan bahwa penyesuaian perkawinan itu lebih kompleks dibandingkan yang terlihat. Dua orang memasuki perkawinan harus menyesuaikan satu sama lain dengan tingkatan yang berbeda-beda. Untuk tingkat organismik mereka harus menyesuaikan diri dengan sensori, motor, emosional dan kapasitas intelektual dan kebutuhan. Untuk tingkat kepribadian, masing-masing mereka harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan, keterampilan, sikap, ketertarikan, nilai-nilai, sifat, konsep ego, dan kepercayaan. Pasangan juga harus menyesuaikan dengan lingkungan mereka, termasuk rumah tangga yang baru, anak-anak, sanak keluarga, teman, dan pekerjaan.
Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa penyesuaian perkawinan itu adalah proses membiasakan diri pada kondisi baru dan berbeda sebagai hubungan suami istri dengan harapan bahwa mereka akan menerima tanggung jawab dan memainkan peran sebagai suami istri. Penyesuaian perkawinan ini juga dianggap sebagai persoalan utama dalam hubungan sebagai suami istri.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian perkawinan adalah dua orang memasuki tahap perkawinan dan mulai membiasakan diri dengan situasi baru sebagai suami istri yang saling menyesuaikan dengan kepribadian, lingkungan, kehidupan keluarga, dan saling mengakomodasikan kebutuhan, keinginan dan harapan.


D.    Perceraian dan Perkawinan Kembali

Pengalaman jatuh cinta dapat merupakan salah satu pengalaman yang paling yang menggairahkan yang diberikan oleh kehidupan. Namun sedikit sekali jika ada hubungan-hubungan yang berjalan mulus. Berbagai negosiasi kompromi dan komunikasi hamper mampir selalu merupakan jalan yang diperlukan.

Setiap hubungan mempunyai  masa evolusinya sendiri dan memahami kesulitan-kesulitan yang terjadi pada setiap tahap dapat membuat hubungan-hubungan tersebut lebih mudah diatasi. Misalkan, masalah dalam suatu hubungan adalah adanya rasa kecemburuan yang muncul  dan terjadi adanya suatu kesalah pahaman sehingga membuat adanya suatu perpisahan atau perceraian.

E.     Alternatif selain Perkawinan

Hidup di dalam kesendirian memang tidak mudah untuk dijalani. Namun ini adalah suatu pilihan yang diambil di kala orang sudah putus asa untuk membina suatu hubungan perkawinan. Misalnya seorang wanita yang sudah lebih dari satu kali menikah dan gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak bersuami dan mengurus anak – anaknya sendiri. Ia merasa mampu karena ia pun seorang wanita karir yang memiliki penghasilan yang cukup. Namun meskipun demikian, seseorang yang menjalani single life pasti mengalami loneliness atau rasa kesepian. Terlebih ketika ia sudah lanjut usia dan anak – anaknya sudah berkeluarga.

DAFTAR PUSTAKA
-          Papalia, Olds & Feldman. (1998). Human Development (7th ed.). Boston: McGraw Hill