Selasa, 05 Mei 2015

Cinta dan Perkawinan



Cinta dan Perkawinan

Tidak ada definisi yang jelas mengenai apa itu cinta. Jika bisa mengambil pendapat seorang teoris, saya memilih mendefinisikan cinta menurut Robert Sternberg, memiliki beberapa komponen yaitu intimacy atau intimasi, passion atau hasrat, dan commitment atau komitmen. Cinta merupakan sesuatu yang kompleks, tidak apat diartikan dengan mudah apalagi dirasakan oleh orang yang belum pernah merasakan apa itu cinta. Dan menurut saya, untuk menjalani sebuah pernikahan atau perkawinan komponen – komponen yang membentuk cinta seperti yang diungkapkan Sternberg,

A.    Memilih Pasangan
  • Saling Jujur dan Setia
Memilih pasangan yang tidak suka berkata-kata bohong, selalu menepati janji dan menjaga amanah. Apabila berjanji selalu ditepati. Karena seseorang yang suka berbohong akan mempengaruhi hubungan keluarganya dan akan berimbas kepada anak turunnya. Maka dari itu kita harus senantiasa memperbaiki diri agar jujur dalam berbicara dan setia menaungi keluarga.
  • Dalam segi penampilan
Dari segi penampilan seeorang bisa kita ketahui baik buruknya orang tersebut. Peribahasa jawa mengatakan : “Ajine Rogo Soko Busono” yang artinya Sifat atau perilaku seseorang bisa dilihat dari penamilannnya. Menarik bukan berarti yang cantik paras mukannya tetapi juga baik hatinya. dan yang bisa menyejukkan hati keluarganya. Dan kita juga harus menjaga penampilan kita saat sudah menikah agar dia selalu dekat dengan kita.
  • Taat Beribadah
Paling penting dlam memilih jodoh adalah mencari agamanya yang baik. seseorang yang agamanya baik selalu akan menghasilkan perilaku yang baik juga, hal ini yang menyangkut dengan masa depan keluarga anda. Karena anak-anak akan banyak dibimbing oleh seeorang ibu. Jika ibunya berperilaku baik maka keturunan atau anaknya akan sebagian besar berperilaku seperti iibunya.

B.     Hubungan dalam Perkawinan
Tidak ada satupun rumus yang ajaib bagaimana membangun suatu perkawinan yang berbahagia yang berbahagia.Sebagian perkawinan bisa berkembang baik dalam kegiatan-kegiatan rutin dan dapat diprediksikan sementara sebagian yang lain berkembang dalam keadaan kacau dan tidak lebih hanya sebagai permainan belaka. Sulit jika bukan tidak mungkin, menilai perawinan seseorang pasangan dengan kriteria-kriteria perkawinan orang lain karena persepsi seseorang pasangan terhadap hubungan sendirilah yang paling penting dalam menentukan keabadian komitmen seumur hidupnya. Tidak semua perkawinan tidak bertahan lama harus didasarkan pada cinta karena banyak perkawinan mampu bertahan dalam rentang yang sangat lama karena faktor-faktor diluar cinta semisal anak-anak, harta, keuangan, atau takut sendirian.

Perkawinan yang berhasil merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan seseorang. Baumgardner dan Clothers (2010) menjelaskan bahwa keberhasilan perkawinan merupakan salah satu penyumbang penting bagi terjadinya penguatan kesehatan individu dan kebahagiaan individu.

Penelitian psikologi positif tentang perkawinan yang berbahagia oleh Lauer dan Lauer tahun 1985 (dalam Baumgardner dan Clothers, 2010) terhadap pasangan yang telah menikah 15 tahun atau lebih menunjukan bahwa pertemenan (friendship) dan komitmen merupakan faktor utama terjadinya perkawinan yang bahagia. Dalam hal ini, pertemanan sangat erat dan mendalam menjadi alas an utama pasngan suami dan istri untuk tetatp hidup dalam ikat perkawinan. Dalam penelitian ini, pasangan suami dan istri yang berbahagia tersebut memberikan penjelasan bahwa pasangan mereka adalah teman terbaik bagi mereka.

Pasangan perkawinan yang berbahagia memiliki pendapat bahwa komitmen yang kuat dan berjangka waktu lama merupakan fundamen yang bagus untuk melestarian sebuah perkawinan yang berbahagia memecahkan maslah perkawinan mereka secara baik dan berkelanjutan.

Selain faktor pertemanan dan faktor komitmen, faktor humor juga memiliki kontribusi yang kuat bagi terciptanya perkawinan yang berbahagia. Dalam kehidupan perkawinan kenikmatan perkawinan dapat diperoleh melalui tertawa bersama sebagai konsekuensi dari tindakan humor. Berdasarkan pada rasional semacam ini, tidak heran banyak orang menseleksi orang lain sebagai calon pasangan terkait dengan kualitas perasaan humor yang dimiliki oleh seseorang.

Selain itu, humor juga mampu mendetoksi atau menetralkan konflik anatara suami dan istri dan sekaligus menyembuhkan stress akibat konflik dalam suatu hubungan perkawinan.lebih lanjut,humor juga membuat suami dan istri untuk saling berbagi (sharing) hal-hal yang sangat personal dalam diri mereka. Dalam hal ini tertawa menggambarkan reaksi emosional alamiah maka orang akan mengalami kesulitan untuk mencoba mengelabui orang lain pada saat tertawa.perilaku tertawa yang bersifat alamiah adalah ekspresi jujur darp persaan sebenarnya dalam diri seseorang (Baumgardner & Clothers, 2010).

C.     Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan

Hirning dan Hirning (1956) mengatakan bahwa penyesuaian perkawinan itu lebih kompleks dibandingkan yang terlihat. Dua orang memasuki perkawinan harus menyesuaikan satu sama lain dengan tingkatan yang berbeda-beda. Untuk tingkat organismik mereka harus menyesuaikan diri dengan sensori, motor, emosional dan kapasitas intelektual dan kebutuhan. Untuk tingkat kepribadian, masing-masing mereka harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan, keterampilan, sikap, ketertarikan, nilai-nilai, sifat, konsep ego, dan kepercayaan. Pasangan juga harus menyesuaikan dengan lingkungan mereka, termasuk rumah tangga yang baru, anak-anak, sanak keluarga, teman, dan pekerjaan.
Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa penyesuaian perkawinan itu adalah proses membiasakan diri pada kondisi baru dan berbeda sebagai hubungan suami istri dengan harapan bahwa mereka akan menerima tanggung jawab dan memainkan peran sebagai suami istri. Penyesuaian perkawinan ini juga dianggap sebagai persoalan utama dalam hubungan sebagai suami istri.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian perkawinan adalah dua orang memasuki tahap perkawinan dan mulai membiasakan diri dengan situasi baru sebagai suami istri yang saling menyesuaikan dengan kepribadian, lingkungan, kehidupan keluarga, dan saling mengakomodasikan kebutuhan, keinginan dan harapan.


D.    Perceraian dan Perkawinan Kembali

Pengalaman jatuh cinta dapat merupakan salah satu pengalaman yang paling yang menggairahkan yang diberikan oleh kehidupan. Namun sedikit sekali jika ada hubungan-hubungan yang berjalan mulus. Berbagai negosiasi kompromi dan komunikasi hamper mampir selalu merupakan jalan yang diperlukan.

Setiap hubungan mempunyai  masa evolusinya sendiri dan memahami kesulitan-kesulitan yang terjadi pada setiap tahap dapat membuat hubungan-hubungan tersebut lebih mudah diatasi. Misalkan, masalah dalam suatu hubungan adalah adanya rasa kecemburuan yang muncul  dan terjadi adanya suatu kesalah pahaman sehingga membuat adanya suatu perpisahan atau perceraian.

E.     Alternatif selain Perkawinan

Hidup di dalam kesendirian memang tidak mudah untuk dijalani. Namun ini adalah suatu pilihan yang diambil di kala orang sudah putus asa untuk membina suatu hubungan perkawinan. Misalnya seorang wanita yang sudah lebih dari satu kali menikah dan gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak bersuami dan mengurus anak – anaknya sendiri. Ia merasa mampu karena ia pun seorang wanita karir yang memiliki penghasilan yang cukup. Namun meskipun demikian, seseorang yang menjalani single life pasti mengalami loneliness atau rasa kesepian. Terlebih ketika ia sudah lanjut usia dan anak – anaknya sudah berkeluarga.

DAFTAR PUSTAKA
-          Papalia, Olds & Feldman. (1998). Human Development (7th ed.). Boston: McGraw Hill

Tidak ada komentar:

Posting Komentar