Cinta dan Perkawinan
Tidak ada definisi yang jelas mengenai apa
itu cinta. Jika bisa mengambil pendapat seorang teoris, saya memilih
mendefinisikan cinta menurut Robert Sternberg, memiliki beberapa komponen yaitu
intimacy atau intimasi, passion atau hasrat, dan commitment atau komitmen.
Cinta merupakan sesuatu yang kompleks, tidak apat diartikan dengan mudah
apalagi dirasakan oleh orang yang belum pernah merasakan apa itu cinta. Dan
menurut saya, untuk menjalani sebuah pernikahan atau perkawinan komponen –
komponen yang membentuk cinta seperti yang diungkapkan Sternberg,
A.
Memilih Pasangan
- Saling Jujur dan Setia
Memilih pasangan yang tidak suka berkata-kata
bohong, selalu menepati janji dan menjaga amanah. Apabila berjanji selalu
ditepati. Karena seseorang yang suka berbohong akan mempengaruhi hubungan
keluarganya dan akan berimbas kepada anak turunnya. Maka dari itu kita harus
senantiasa memperbaiki diri agar jujur dalam berbicara dan setia menaungi
keluarga.
- Dalam segi penampilan
Dari segi penampilan seeorang bisa kita
ketahui baik buruknya orang tersebut. Peribahasa jawa mengatakan : “Ajine Rogo
Soko Busono” yang artinya Sifat atau perilaku seseorang bisa dilihat dari
penamilannnya. Menarik bukan berarti yang cantik paras mukannya tetapi juga
baik hatinya. dan yang bisa menyejukkan hati keluarganya. Dan kita juga harus
menjaga penampilan kita saat sudah menikah agar dia selalu dekat dengan kita.
- Taat Beribadah
Paling penting dlam memilih jodoh adalah
mencari agamanya yang baik. seseorang yang agamanya baik selalu akan
menghasilkan perilaku yang baik juga, hal ini yang menyangkut dengan masa depan
keluarga anda. Karena anak-anak akan banyak dibimbing oleh seeorang ibu. Jika
ibunya berperilaku baik maka keturunan atau anaknya akan sebagian besar
berperilaku seperti iibunya.
B.
Hubungan dalam Perkawinan
Tidak ada satupun rumus yang ajaib bagaimana
membangun suatu perkawinan yang berbahagia yang berbahagia.Sebagian perkawinan
bisa berkembang baik dalam kegiatan-kegiatan rutin dan dapat diprediksikan
sementara sebagian yang lain berkembang dalam keadaan kacau dan tidak lebih
hanya sebagai permainan belaka. Sulit jika bukan tidak mungkin, menilai
perawinan seseorang pasangan dengan kriteria-kriteria perkawinan orang lain
karena persepsi seseorang pasangan terhadap hubungan sendirilah yang paling
penting dalam menentukan keabadian komitmen seumur hidupnya. Tidak semua
perkawinan tidak bertahan lama harus didasarkan pada cinta karena banyak
perkawinan mampu bertahan dalam rentang yang sangat lama karena faktor-faktor
diluar cinta semisal anak-anak, harta, keuangan, atau takut sendirian.
Perkawinan yang berhasil merupakan sesuatu yang
penting dalam kehidupan seseorang. Baumgardner dan Clothers (2010) menjelaskan
bahwa keberhasilan perkawinan merupakan salah satu penyumbang penting bagi
terjadinya penguatan kesehatan individu dan kebahagiaan individu.
Penelitian psikologi positif tentang perkawinan yang
berbahagia oleh Lauer dan Lauer tahun 1985 (dalam Baumgardner dan Clothers,
2010) terhadap pasangan yang telah menikah 15 tahun atau lebih menunjukan bahwa
pertemenan (friendship) dan komitmen merupakan faktor utama terjadinya
perkawinan yang bahagia. Dalam hal ini, pertemanan sangat erat dan mendalam
menjadi alas an utama pasngan suami dan istri untuk tetatp hidup dalam ikat
perkawinan. Dalam penelitian ini, pasangan suami dan istri yang berbahagia
tersebut memberikan penjelasan bahwa pasangan mereka adalah teman terbaik bagi
mereka.
Pasangan perkawinan yang berbahagia memiliki
pendapat bahwa komitmen yang kuat dan berjangka waktu lama merupakan fundamen
yang bagus untuk melestarian sebuah perkawinan yang berbahagia memecahkan
maslah perkawinan mereka secara baik dan berkelanjutan.
Selain faktor pertemanan dan faktor komitmen, faktor
humor juga memiliki kontribusi yang kuat bagi terciptanya perkawinan yang
berbahagia. Dalam kehidupan perkawinan kenikmatan perkawinan dapat diperoleh
melalui tertawa bersama sebagai konsekuensi dari tindakan humor. Berdasarkan
pada rasional semacam ini, tidak heran banyak orang menseleksi orang lain
sebagai calon pasangan terkait dengan kualitas perasaan humor yang dimiliki
oleh seseorang.
Selain itu, humor juga mampu mendetoksi atau
menetralkan konflik anatara suami dan istri dan sekaligus menyembuhkan stress
akibat konflik dalam suatu hubungan perkawinan.lebih lanjut,humor juga membuat
suami dan istri untuk saling berbagi (sharing) hal-hal yang sangat
personal dalam diri mereka. Dalam hal ini tertawa menggambarkan reaksi
emosional alamiah maka orang akan mengalami kesulitan untuk mencoba mengelabui
orang lain pada saat tertawa.perilaku tertawa yang bersifat alamiah adalah
ekspresi jujur darp persaan sebenarnya dalam diri seseorang (Baumgardner &
Clothers, 2010).
C.
Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Hirning dan Hirning (1956) mengatakan bahwa
penyesuaian perkawinan itu lebih kompleks dibandingkan yang terlihat. Dua orang
memasuki perkawinan harus menyesuaikan satu sama lain dengan tingkatan yang
berbeda-beda. Untuk tingkat organismik mereka harus menyesuaikan diri dengan
sensori, motor, emosional dan kapasitas intelektual dan kebutuhan. Untuk
tingkat kepribadian, masing-masing mereka harus menyesuaikan diri dengan
kebiasaan, keterampilan, sikap, ketertarikan, nilai-nilai, sifat, konsep ego,
dan kepercayaan. Pasangan juga harus menyesuaikan dengan lingkungan mereka,
termasuk rumah tangga yang baru, anak-anak, sanak keluarga, teman, dan
pekerjaan.
Duvall dan Miller (1985) mengatakan bahwa
penyesuaian perkawinan itu adalah proses membiasakan diri pada kondisi baru dan
berbeda sebagai hubungan suami istri dengan harapan bahwa mereka akan menerima
tanggung jawab dan memainkan peran sebagai suami istri. Penyesuaian perkawinan
ini juga dianggap sebagai persoalan utama dalam hubungan sebagai suami istri.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
penyesuaian perkawinan adalah dua orang memasuki tahap perkawinan dan mulai
membiasakan diri dengan situasi baru sebagai suami istri yang saling
menyesuaikan dengan kepribadian, lingkungan, kehidupan keluarga, dan saling
mengakomodasikan kebutuhan, keinginan dan harapan.
D.
Perceraian dan Perkawinan Kembali
Pengalaman jatuh cinta dapat merupakan salah satu
pengalaman yang paling yang menggairahkan yang diberikan oleh kehidupan. Namun
sedikit sekali jika ada hubungan-hubungan yang berjalan mulus. Berbagai
negosiasi kompromi dan komunikasi hamper mampir selalu merupakan jalan yang
diperlukan.
Setiap
hubungan mempunyai masa evolusinya sendiri dan memahami
kesulitan-kesulitan yang terjadi pada setiap tahap dapat membuat
hubungan-hubungan tersebut lebih mudah diatasi. Misalkan, masalah dalam suatu
hubungan adalah adanya rasa kecemburuan yang muncul dan terjadi adanya
suatu kesalah pahaman sehingga membuat adanya suatu perpisahan atau perceraian.
E.
Alternatif selain Perkawinan
Hidup
di dalam kesendirian memang tidak mudah untuk dijalani. Namun ini adalah suatu
pilihan yang diambil di kala orang sudah putus asa untuk membina suatu hubungan
perkawinan. Misalnya seorang wanita yang sudah lebih dari satu kali menikah dan
gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak bersuami dan mengurus anak – anaknya
sendiri. Ia merasa mampu karena ia pun seorang wanita karir yang memiliki
penghasilan yang cukup. Namun meskipun demikian, seseorang yang menjalani single
life pasti mengalami loneliness atau rasa kesepian. Terlebih ketika
ia sudah lanjut usia dan anak – anaknya sudah berkeluarga.
DAFTAR
PUSTAKA
-
Papalia, Olds & Feldman.
(1998). Human Development (7th ed.). Boston: McGraw Hill
Tidak ada komentar:
Posting Komentar